Ada Apa Lagi dari Mayora?
Thursday, June 26th, 2003
oleh : admin
“Satu Lagi dari Mayoraâ€ÂÂ. Ya, jargon ini pernah sangat fasih dilafalkan anak-anak Indonesia yang memang suka biskuit dan permen. Produk-produk Mayora yang keluar secara beruntun pernah menjadi pembelanja iklan terbesar bagi TV swasta. Namun, entah mengapa, Mayora tiba-tiba menghilang seiring krisis yang mulai mengguncang.
Publik kemudian menyimpulkan bahwa masa keemasan Mayora telah berakhir ketika muncul berita PT Mayora Indah tersangkut transaksi derivatif dengan Bankers Trust Internasional (SWA edisi 05/2000) yang berbuntut ke meja hijau. Beruntung kasus ini dimenangkan Mayora pada Oktober 2002.
Pada saat yang sama, Mayora juga diguncang tuntutan kenaikan gaji karyawan. Manajemen Mayora menolak tuntutan karyawan ini. Akan tetapi, bagusnya, tak ada PHK bagi mereka yang berdemo. Kabarnya, ada pihak lain yang mengompori demo karyawan ini.
Seperti dialami perusahaan lain, krisis membuat neraca keuangan perusahaan ini termehek-mehek. September 1999, Mayora merugi Rp 27,47 miliar. Angka penjualan sepanjang 9 bulan pertama tahun itu Rp 370,91 milliar atau hanya tumbuh 7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 344,84 milliar. Belum lagi dampak dari belitan beban usaha dan bunga utang. Yang patut diacungi jempol, kondisi ini tak mampu memaksa manajemen Mayora melakukan satu pun PHK terhadap karyawannya.
Kondisi tersulit Mayora adalah ketika para pesaingnya yang juga pemain kuat dunia, Danone dan Nabisco, tampil agresif di pentas bisnis nasional. Dalam waktu relatif singkat, produk-produk kedua perusahaan raksasa ini menohok produk Mayora, juga produsen biskuit lokal lainnya. Repotnya, sodokan pemain lokal yang juga gencar menghadirkan produk baru dan inovatif terus saja mengganggu pasar Mayora. Permen Kopiko, produk andalan Mayora, terpukul hebat oleh permen Kino yang jorjoran beriklan dengan tagline-nya yang mengena, “Begitu Ada Kino, Yang Lain Jadi Kunoâ€ÂÂ.
Apa kata Mayora? Hermawan Lesmana, Direktur Keuangan Mayora, membantah anggapan bahwa bintang perusahaan yang ikut didirikannya itu telah meredup. Katanya, Mayora tak mengurangi biaya promosi di tengah krisis sekalipun. Periode 2000-2, besaran angka promosi bahkan terus diperbesar. Sepanjang 2000, Mayora menghabiskan Rp 49 miliar untuk promosi dan naik lagi menjadi Rp 52 miliar tahun berikutnya. Pada 2002, angka itu mencapai Rp 75 miliar. Hasilnya, penjualan Mayora sebesar Rp 998 miliar pada 2002 atau naik 19,2% dibanding tahun sebelumnya, Rp 833 miliar. Tahun ini, Mayora menargetkan penjualan Rp 1-1,2 triliun. Laba bersih tahun 2001 sebesar Rp 31,14 milliar dan naik hampir 400% pada 2002 yang mencapai Rp 119,49 milliar.
Prestasi ini adalah buah dari berbagai kebijakan baru. Salah satunya, perubahan strategi beriklan. Saat krisis tempo hari, iklan-iklan Mayora tampak berbeda dibanding sebelumnya. Iklan-iklan sebelumnya lebih menonjolkan citra korporat, sedangkan saat itu Mayora memilih menonjolkan merek-merek produk. Perusahaan makanan ringan ini tampaknya sadar bahwa tak semua produk Mayora dikenal masyarakat. Beng Beng, Choki-Choki dan Kopiko memang dikenal sebagai produk Mayora. Namun, Mayora hampir-hampir tak dikenali pada produknya yang lain seperti Wafer Sando, Suklat, Energen Sereal, permen Tamarin dan Kalsio meskipun gencar diiklankan.
Perubahan strategi iklan ini juga menjadi salah satu bentuk penghematan: mengurangi durasi iklan dengan memotong narasi jargon andalannya, “Satu Lagi dari Mayoraâ€ÂÂ. Penghilangan bagian ini sebenarnya bisa menjadi masalah jika ternyata tujuan menonjolkan merek-merek produk justru tidak kesampaian. Akan tetapi, kata Hermawan, slogan korporat Mayora telah menancap dengan sempurna di benak masyarakat.
Mayora juga siap merestrukturisasi utang obligasi rupiah (Obligasi Mayora Indah I) senilai Rp 300 miliar yang akan jatuh tempo pada 2004. “Kami sudah siapkan dananya,” ujar Hermawan. Obligasi rupiah yang dikeluarkan perseroan sejak 1997 tersebut tercatat di PT Bursa Efek Surabaya dengan jangka 5-7 tahun. Perseroan juga sebelumnya berhasil merestrukturisasi utang Medium Term Notes (MTN) senilai US$ 29,9 juta kepada kreditor lokal dan asing melalui mediasi Prakarsa Jakarta. MTN yang sedianya jatuh tempo pada 1999 berhasil dijadwal ulang hingga 2004. “Kami berharap hingga 2004 semua utang valas tersebut sudah bisa terbayar. Tapi jika gagal, akan ditempuh cara refinancing,” jelasnya.
Dan masih banyak strategi lainnya. Inovasi produk, model pemasaran yang kreatif dan efektif, permodalan yang kuat. Soal yang terakhir ini sedikit melegakan, sebab nilai tukar rupiah terus membaik. Nilai dolar AS sangat esensial bagi Mayora, karena bahan baku dan kemasan produknya masih banyak yang harus diimpor. Tahun ini juga Mayora akan menambah lini produksi pabrik di Tangerang dan memperluas bangunan pabriknya yang sudah ada. Sumber dananya? Sejumlah media beberapa pekan lalu mengutip pernyataan Hermawan yang menyebutkan pihaknya akan menerbitkan obligasi sebesar Rp 200 miliar.
Nah, per 2001, strategi beriklan dengan menonjolkan citra korporat kembali dilancarkan. Yang berbeda, dulu Mayora memercayakan sepenuhnya kepada agensi tunggal, Hotline Advertising, sedangkan kini, membaginya kepada empat perusahaan periklanan. Ada yang ditunjuk hanya menangani kreatifnya sedangkan agensi lainnya semata mengurusi penempatan iklan-iklan tersebut ke media massa yang sesuai dengan visi dan misi yang sedang dan akan dibangun. Kegiatan below the line juga digalakkan, seperti ikut serta dalam berbagai bazar dan promosi hingga ke sekolah-sekolah.
Dalam waktu dekat, Mayora kembali akan meluncurkan produk baru. Ini tampaknya jawaban atas keraguan orang bahwa Mayora telah kehilangan taringnya dalam hal inovasi produk yang pernah sangat dibanggakan. Beberapa tahun silam, Mayora dikenal sebagai pelari cepat dengan berbagai produknya yang hadir secara beruntun. PT Kakao Mas Gemilang, anak perusahaan Mayora, meluncurkan Energen Sereal yang segera disusul Suklat plus beberapa produk permen seperti Tamarin, Plonk, Kis dan Kalsio (diposisikan sebagai permen Kalsium) serta wafer Sando. “Kami juga akan me-relaunch beberapa produk seperti Malkish Prima,” ungkap Hermawan.
Hebatnya, pamor produk Mayora yang diluncurkan beberapa tahun lalu tetap saja bersinar. Di Hero Mal Kalibata, misalnya, penjualan Kopiko, Beng-Beng dan Danisa tak pernah surut bertahun-tahun lamanya. Periode Mei 2003 misalnya, Kopiko dengan harga Rp 4.375, berhasil terjual 50 kantong (satu kantong isi 80 pieces). Bandingkan dengan Yesco (PT Pasta Buana), pesaing Kopiko, yang hanya mencapai 20 kantong. Januari awal tahun ini, Beng-Beng terjual 2.400 pieces dan naik lagi menjadi 2.500 pieces sebulan kemudian, sebelum menjadi 2.800 pieces pada Mei lalu. Sementara pesaing terkuatnya, Tops, hanya mampu mencetak 800 pieces dengan harga jual sedikit lebih murah dibanding Beng-Beng. Namun, kinerja Danisa Butter Cookies sedikit lambat. Di kategori ini, Danisa harus bersaing ketat dengan pemain lama yang terbilang kuat, Monde produk PT Jadi Abadi Corak Biscuit.
Selain terus mengembangkan produk dan merestrukturisasi utang, perusahaan ini pun masih mengekspor. Chief Consultant Officer Direxion Consulting, Jahja B. Soenarjo, mengatakan bahwa Mayora memang tampak slowdown, “Tapi bukan tiarap.” Buktinya, ekspornya masih terbilang bagus yang nilainya mencapai sama dengan 15% biaya produksi. Beberapa produknya pun lumayan bagus, seperti produk mi instan Miduo, biskuit Roma yang legendaris, serta permen Kopiko yang terus menjadi idola.
Jahja menilai, boleh jadi Mayora sedang melakukan reorientasi. Akan tetapi, ada informasi bagus yang didapatkan Jahja bahwa salah satu kesulitan utama Mayora saat ini adalah minimnya manajer profesional berkualitas yang dapat menjadi agen perubahan dalam organisasi perusahaan agar lebih responsif dan adaptif. Setidaknya, kehadiran profesional ini bisa mengangkat produk yang keok di pasar. Beruntung, Mayora masih oke di kategori biskuit dan permen. Contohnya, Beng-Beng, biskuit Roma dan biskuit sandwich Better-nya.
Mayora juga memiliki produk-produk low-end yang tidak perlu gencar diiklankan, termasuk Miduo yang kinerja penjualannya lumayan bagus. “Perusahaan ini sangat kompetitif dan tuntutan speed of innovation-nya tinggi. Dalam hitungan bulan saja muncul banyak produk plus merek baru (horisontal) serta varian baru (vertikal),” puji Jahja.
Namun, bukan jaminan bahwa Mayora yang diposisikan dalam 10 besar produsen biskuit ternama di Republik ini bisa bertahan dengan gagah jika inovasi tersebut tidak disuntik energi lebih besar lagi. Pasalnya, pesaing mereka terlihat sangat gencar, baik lokal maupun multinasional. Dari pemain lokal, Mayora harus terus mengintip sepak terjang Khong Guan, Nissin, Hollanda, Siantar Top atau AIM. Adapun dari para raksasa dunia, Nabisco, Arnott dan Danone siap melumat habis saat lengah sedikit saja.
Namun, kelebihan Mayora dibanding pesaingnya, khususnya dari pasar pemain lokal, adalah bermain di tiga kategori sekaligus, yakni biskuit, permen dan makanan. Satu lagi, keandalan jaringan distribusi yang ditangani anak perusahaan sendiri, yakni PT Inbisco, yang memiliki jejaring distribusi di 309 titik cabang dan keagenan yang tersebar di seluruh Indonesia.
Label
- 1. Profil diri (1)
- 2. Profil Wirausaha (5)
- 3. Product (5)
- 4. price (2)
- 5. Place (1)
- 6. Promosion (1)
- 7. People (1)
- 8. Proses (1)
- 9. Phisycal evidence (1)
Tampilkan postingan dengan label 3. Product. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3. Product. Tampilkan semua postingan
Jumat, 15 Oktober 2010
Info Produk Nokia E71
Diposting Oleh: Deddy Dunixi Pada Hari Wednesday, 25 November 2009One Comment
Share
Quadband, TFT 16M Colors, GPRS, HSDPA, Bluetooth, 3.15MP Camera, MP3 Player, FM Radio, 110MB Internal Memory, microSD Slo, WiFi, GPS, Symbian 9.2, QWERTY Keyboard.
Spesifikasi Detail
Network Availability: GSM
Network Coverage: GSM 850 / GSM 900 / GSM 1800 / GSM 1900
Display Type: TFT, 16M colors
Display Size: 320 x 240 pixels
Input Type: QWERTY Keyboard, 5-way Scroll Key
Ringtones Type: Customisable Ring Tone
Std. Memory: 110 MB Internal Memory
Memory Slot: MicroSD, hotswap, up to 8GB
GPRS: GPRS class A, Edge Class A, HSDPA(max 3.6Mbps)
Messaging Capabilities: SMS, MMS, Email
Infrared Port: Available
Bluetooth: Available
Wireless LAN: Available
Camera: 3.2 MP (2048 x 1546), LED Flash, autofocus
Video Recorder: QVGA
Voice Recorder: Available
Multimedia: FM Radio, MP3/WMA/AAC/AAC+/eAAC+
Talk Time: 10.3 hours
Standby Time: 408 Hours
Operating System: Symbian Os 9.2, S60 3.1 Edition, Eseries
Other Personal Assistants :
Calendar
Calculator
Converter
Active Notes
*To-do-list
Reminders
Quick Office
PDF Viewer
Dictionary
Integrated A-GPS, NOKIA MAPS
PC Connectivity: Bluetooth 2.0 EDR, Micro-USB
Dimension: (WHD) 57×114x10 mm
Weight: 127 g
Kiasaran harga baru: 3 Jutaan.
Suka dengan Artikel Diatas ? Bagikan Di Web / Blog Anda
Dengan Link Back Ke Blog ini tentunya kita akan mudah untuk saling berkomunikasi dan tentunya sama sama diuntungkan, karena blog ini SEO nya manstap..!! Silakan Link Back Ke Sumber Asli Artikel Ini, Copy Code HTML dibawah ini dan paste di postingan web/blog anda.
Diposting Oleh: Deddy Dunixi Pada Hari Wednesday, 25 November 2009One Comment
Share
Quadband, TFT 16M Colors, GPRS, HSDPA, Bluetooth, 3.15MP Camera, MP3 Player, FM Radio, 110MB Internal Memory, microSD Slo, WiFi, GPS, Symbian 9.2, QWERTY Keyboard.
Spesifikasi Detail
Network Availability: GSM
Network Coverage: GSM 850 / GSM 900 / GSM 1800 / GSM 1900
Display Type: TFT, 16M colors
Display Size: 320 x 240 pixels
Input Type: QWERTY Keyboard, 5-way Scroll Key
Ringtones Type: Customisable Ring Tone
Std. Memory: 110 MB Internal Memory
Memory Slot: MicroSD, hotswap, up to 8GB
GPRS: GPRS class A, Edge Class A, HSDPA(max 3.6Mbps)
Messaging Capabilities: SMS, MMS, Email
Infrared Port: Available
Bluetooth: Available
Wireless LAN: Available
Camera: 3.2 MP (2048 x 1546), LED Flash, autofocus
Video Recorder: QVGA
Voice Recorder: Available
Multimedia: FM Radio, MP3/WMA/AAC/AAC+/eAAC+
Talk Time: 10.3 hours
Standby Time: 408 Hours
Operating System: Symbian Os 9.2, S60 3.1 Edition, Eseries
Other Personal Assistants :
Calendar
Calculator
Converter
Active Notes
*To-do-list
Reminders
Quick Office
PDF Viewer
Dictionary
Integrated A-GPS, NOKIA MAPS
PC Connectivity: Bluetooth 2.0 EDR, Micro-USB
Dimension: (WHD) 57×114x10 mm
Weight: 127 g
Kiasaran harga baru: 3 Jutaan.
Suka dengan Artikel Diatas ? Bagikan Di Web / Blog Anda
Dengan Link Back Ke Blog ini tentunya kita akan mudah untuk saling berkomunikasi dan tentunya sama sama diuntungkan, karena blog ini SEO nya manstap..!! Silakan Link Back Ke Sumber Asli Artikel Ini, Copy Code HTML dibawah ini dan paste di postingan web/blog anda.
RE: [balita-anda] produk susu kedelai
Rachmawati Krisdjoko
Mon, 15 Mar 2010 02:30:21 -0700
Kalo mau beralih ke susu sapi pelan2 aja mbak. Kalo ternyata reaksi anak
masih alergi sama sapi jangan dulu nanti lain kali coba lagi sedikit2. (ini
pengalaman aku dengan anak yang alergi susu sapi).
-----Original Message-----
From: Viria Arieaji [mailto:vi...@ptmkm.co.id]
Sent: Monday, March 15, 2010 4:20 PM
To: balita-anda@balita-anda.com
Subject: RE: [balita-anda] produk susu kedelai
Ikutan nimbrung mba..:)
Anakku naufal ( 22 bln) jg alergi susu sapi, selama ini minum susu soya.
Blum lama ini aku cobaiin minum susu uht tp muka & matanya langsung merah
dan gatal2.
Sebaiknya klau mau ganti susu sapi kira2 umur brp ya?
Thanks
-----Original Message-----
From: Nani [mailto:nani.rcijkt.logist...@ritra.com]
Sent: Monday, March 15, 2010 4:01 PM
To: balita-anda@balita-anda.com
Subject: RE: [balita-anda] produk susu kedelai
Udah Mba, tetapi bukan adiknya yang minumin malah kakaknya, saya tdk bisa
menyetok susu uht krn kakaknya selalu minumin (Kakaknya sdh umur 6 thn)
padahal sy sdh larang tetapi kalo tdk dikasih dia ngambek trus suka mukul2
ke adiknya.
Kalo ada saya dirumah dia agak penurut bisa dilarang utk tdk minum tetapi
kalo sy kekantor mbanya kewalahan melarangnya.
Yang tadinya susu UHT utk 1 bulan jadi Cuma utk beberapa hari aja..he..he
---Original Message-----
From: Besta Arlita [mailto:mam...@gmail.com]
Sent: Monday, March 15, 2010 3:09 PM
To: balita-anda@balita-anda.com
Subject: Re: [balita-anda] produk susu kedelai
Sudah coba UHT utk susu sapinya ? Lebih segar, gak melalui banyak
pemrosesan.
send from my ALSA ~smartphone~
-----Original Message-----
From: "Nani"
Date: Mon, 15 Mar 2010 15:02:27
To:
Subject: RE: [balita-anda] produk susu kedelai
Dear Mba Lita,
Iya nich Mba, anakku M.Ihsan (skrg 2 thn) alergi susu sapi, susunya sampai
skrg masih Isomil...aku pernah coba kasih Dancow siapa tahu udh bisa terima
tetapi kayaknya blm soalnya pas aku kasih dancow pupnya sehari bisa 4-5 kali
sdgkan kalo pake isomil sehari sekali aja.
Tx
-----Original Message-----
From: Besta Arlita [mailto:mam...@gmail.com]
Sent: Monday, March 15, 2010 2:53 PM
To: balita-anda@balita-anda.com
Subject: Re: [balita-anda] produk susu kedelai
Mbak Nani,
Alergi susu sapi maksudnya ?
Sekarang ini pakai susu apa?
Rgds
Lita
send from my ALSA ~smartphone~
-----Original Message-----
From: "Nani"
Date: Mon, 15 Mar 2010 14:47:05
To:
Subject: RE: [balita-anda] produk susu kedelai
Dear Mba Emma,
Mba, waktu dikasih sustagen itu umur berapa yach ? trus sustagen nya yang
Junior atau yang biasa ?
Anak saya juga Alergi susu nich Mba, secara anak sys dh 2 tahun dan pas saya
coba susu Dancow dia masih belum cocok.
Tx,
Mamanya Zaidan
-----Original Message-----
From: Emma [mailto:emma.bach...@gmail.com]
Sent: Monday, March 15, 2010 2:36 PM
To: balita-anda@balita-anda.com
Subject: Re: [balita-anda] produk susu kedelai
Ass.wr.wb,
salam kenal saya emma mama dari Syifa(3th4bln) dan Raguan(1,5th).Klo
anak-anak saya blum pernah
minum tapi anak sepupu saya karena dia alergi ama susu formula, ama mamanya
dikasi susu kedelai
dan alhamdulillah cocok.
sekarang udah stop bukan karena apa-apa tp gara-gara anaknya udah bosen trus
diganti sustagen
ampe sekarang ndak ada masalah.
Tx
Emma
Rachmawati Krisdjoko
Mon, 15 Mar 2010 02:30:21 -0700
Kalo mau beralih ke susu sapi pelan2 aja mbak. Kalo ternyata reaksi anak
masih alergi sama sapi jangan dulu nanti lain kali coba lagi sedikit2. (ini
pengalaman aku dengan anak yang alergi susu sapi).
-----Original Message-----
From: Viria Arieaji [mailto:vi...@ptmkm.co.id]
Sent: Monday, March 15, 2010 4:20 PM
To: balita-anda@balita-anda.com
Subject: RE: [balita-anda] produk susu kedelai
Ikutan nimbrung mba..:)
Anakku naufal ( 22 bln) jg alergi susu sapi, selama ini minum susu soya.
Blum lama ini aku cobaiin minum susu uht tp muka & matanya langsung merah
dan gatal2.
Sebaiknya klau mau ganti susu sapi kira2 umur brp ya?
Thanks
-----Original Message-----
From: Nani [mailto:nani.rcijkt.logist...@ritra.com]
Sent: Monday, March 15, 2010 4:01 PM
To: balita-anda@balita-anda.com
Subject: RE: [balita-anda] produk susu kedelai
Udah Mba, tetapi bukan adiknya yang minumin malah kakaknya, saya tdk bisa
menyetok susu uht krn kakaknya selalu minumin (Kakaknya sdh umur 6 thn)
padahal sy sdh larang tetapi kalo tdk dikasih dia ngambek trus suka mukul2
ke adiknya.
Kalo ada saya dirumah dia agak penurut bisa dilarang utk tdk minum tetapi
kalo sy kekantor mbanya kewalahan melarangnya.
Yang tadinya susu UHT utk 1 bulan jadi Cuma utk beberapa hari aja..he..he
---Original Message-----
From: Besta Arlita [mailto:mam...@gmail.com]
Sent: Monday, March 15, 2010 3:09 PM
To: balita-anda@balita-anda.com
Subject: Re: [balita-anda] produk susu kedelai
Sudah coba UHT utk susu sapinya ? Lebih segar, gak melalui banyak
pemrosesan.
send from my ALSA ~smartphone~
-----Original Message-----
From: "Nani"
Date: Mon, 15 Mar 2010 15:02:27
To:
Subject: RE: [balita-anda] produk susu kedelai
Dear Mba Lita,
Iya nich Mba, anakku M.Ihsan (skrg 2 thn) alergi susu sapi, susunya sampai
skrg masih Isomil...aku pernah coba kasih Dancow siapa tahu udh bisa terima
tetapi kayaknya blm soalnya pas aku kasih dancow pupnya sehari bisa 4-5 kali
sdgkan kalo pake isomil sehari sekali aja.
Tx
-----Original Message-----
From: Besta Arlita [mailto:mam...@gmail.com]
Sent: Monday, March 15, 2010 2:53 PM
To: balita-anda@balita-anda.com
Subject: Re: [balita-anda] produk susu kedelai
Mbak Nani,
Alergi susu sapi maksudnya ?
Sekarang ini pakai susu apa?
Rgds
Lita
send from my ALSA ~smartphone~
-----Original Message-----
From: "Nani"
Date: Mon, 15 Mar 2010 14:47:05
To:
Subject: RE: [balita-anda] produk susu kedelai
Dear Mba Emma,
Mba, waktu dikasih sustagen itu umur berapa yach ? trus sustagen nya yang
Junior atau yang biasa ?
Anak saya juga Alergi susu nich Mba, secara anak sys dh 2 tahun dan pas saya
coba susu Dancow dia masih belum cocok.
Tx,
Mamanya Zaidan
-----Original Message-----
From: Emma [mailto:emma.bach...@gmail.com]
Sent: Monday, March 15, 2010 2:36 PM
To: balita-anda@balita-anda.com
Subject: Re: [balita-anda] produk susu kedelai
Ass.wr.wb,
salam kenal saya emma mama dari Syifa(3th4bln) dan Raguan(1,5th).Klo
anak-anak saya blum pernah
minum tapi anak sepupu saya karena dia alergi ama susu formula, ama mamanya
dikasi susu kedelai
dan alhamdulillah cocok.
sekarang udah stop bukan karena apa-apa tp gara-gara anaknya udah bosen trus
diganti sustagen
ampe sekarang ndak ada masalah.
Tx
Emma
Keaslian Produk Coca-Cola – Versi Lengkap!
September 23, 2008 in Seorang Akuntan | Tags: coca-cola, cost, distribution, dumping, murah, pricing | by Laron
Pada hari minggu sepulang berbelanja bersama istri, aku terpikir untuk menulis surat pembaca di detik.com. Dalam beberapa hari terakhir aku memang penasaran dengan produk Coca-Cola yang dijual 5.000-an di sekitar tempatku tinggal, Petukangan. Sehari kemudian suratku dimuat di detik.com. Lebih lengkapnya bisa klik ini.
Keesokan harinya setelah suratku dimuat, pihak Coca-Cola langsung menghubungiku. Mereka mencoba memberi klarifikasi bahwa produk yang aku maksud itu memang produk asli Coca-Cola yang didistribusikan secara resmi. Mereka juga menjelaskan bahwa harga “diskon” tersebut hanya dalam rangka bulan puasa. Sebagai tambahan, mereka juga mempersenjatai penjual dengan surat keterangan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sayangnya aku belum sempat mengecek.
Menerima penjelasan seperti itu tentu saja dalam hati aku tidak puas. Latar belakang akuntansi memang membuatku sedikit skeptis, karena yang ada di otakku hanyalah perhitungan biaya, COGS, dan pricing theory.
Setelah telepon yang pertama, pihak Coca-Cola kembali menghubungiku untuk meminta tolong agar sekiranya aku menulis kembali di detik.com mengenai klarifikasi yang mereka berikan. Karena detik.com adalah situs top 10 di Indonesia yang sudah pasti pembacanya cukup banyak, aku juga tidak mau “aneh-aneh” untuk memperpanjang skeptisku yang tidak berujung. Maka dengan kerendahan hati aku tuliskan keterangan yang diberikan oleh pihak Coca-Cola (lihat). Dan sisanya, akan aku tuangkan dalam blog ini.
Kejanggalan-kejanggalan:
1. Dumping Theory
Dumping adalah salah satu kebijakan penetapan harga yang menggunakan lebih dari satu harga. Artinya perusahaan akan menjual harga lebih mahal/murah di tempat lain. Walaupun dumping mengandung konteks antarnegara, aku pikir masih relevan jika kita kaitkan dengan kasus ini.
Semenjak produk “diskon” tersebut beredar di masyarakat, ternyata aku masih menemukan harga produk Coca-Cola yang “normal” di supermarket. Katakanlah di Giant, Carrefour, Indomaret, Alfa, dll. Kalaupun ada perbedaan, pasti hanya sedikit dan itu karena kesepakatan dengan pihak supermarket.
Hal ini tentu saja menjadi pertanyaan besar bagi kita semua? Terlebih lagi, hal ini tentu akan merugikan pihak supermarket karena konsumen sudah pasti memilih harga yang lebih murah. Toh, tidak ada peraturan bahwa produk Coca-Cola 5.000-an itu hanya untuk orang miskin dan orang kaya tidak boleh membeli. Maka secara bisnis tentu saja hal ini akan berakibat buruk karena menganggu hubungan dengan pihak distributor, yaitu supermarket.
2. Predatory Pricing
Secara sederhana, predatory pricing adalah strategi penetapan harga dengan cara menjual barang/jasa dengan harga sangat murah di bawah harga pasar (bahkan sampai di bawah COGS = rugi), yang tujuannya untuk mengambil pangsa pasar pesaing dan kemudian menaikan harga secara bertahap sambil mempertahankan konsumen.
Industri minuman kaleng termasuk industri yang elastis (informasi dari situs www.coca-colabottling.co.id). Artinya persentase perubahan harga akan mengakibatkan perubahan persentase permintaan yang lebih besar melebihi perubahan harga itu sendiri.
Sekarang coba anda bayangkan saat Coca-Cola menetapkan harganya Rp 5.000 (diskon 44% dari harga normal yang sekitar Rp 9.000). Sudah pasti permintaannya akan jauh melonjak dan lebih besar. Dengan demikian, pasar industri minuman bisa terserap semua ke Coca-Cola. Pesaing yang lain seperti Pepsi tentu saja akan hancur.
Strategi ini sepertinya tidak perlu dilakukan Coca-Cola yang merupakan market leader di pasar Indonesia. Bukan hanya tidak tepat, tetapi bisa merusak citra/imej yang telah Coca-Cola bangun selama ini (akan kita bahas dalam poin selanjutnya).
3. Citra (Price Reflect Quality)
Harga mencerminkan kualitas. Saya yakin kebanyakan orang akan beranggapan bahwa harga yang murah identik dengan kualitas kelas rendah. Jika Coca-Cola menurunkan harga sedemikian drastis, tentu saja pengeluaran mereka di iklan untuk membangun citra/imej menjadi hancur lebur berantakan. Anda pasti kita ingat “Segarnya Mantap, itu Coca-Cola”, atau “Hidup Ala Coca-Cola”
Akupun pertama kali tahu bahwa harganya sedemikian murah sudah langsung beranggapan buruk, bahwa ini tidak mungkin produk legal Coca-Cola. Bisa jadi ini Coca-Cola “odong-odong” seperti produk, makanan, atau minuman yang sering masuk investigasi di Trans TV. Produk hasil penyalahgunaan zat-zat atau bahan-bahan tertentu.
4. Kemana Iklannya?
Saat pihak Coca-Cola mengatakan ‘dalam rangka bulan puasa’, langsung saja aku berpikir, ‘nonsense!’. Tidak mungkin mereka mau mengorbankan biaya yang mereka keluarkan secara cuma-cuma. Memberi kepuasan kepada konsumen? Impossible. Tujuan perusahaan adalah profit, atau lebih tepatnya memaksimalkan kesejahteraan pemilik saham. Sangat sulit diterima jika Coca-Cola mau “beramal” sedemikan baik seperti itu kepada “sebagian” konsumennya. Jangankan menurunkan harga, mengadakan sebuah acara “tidak penting” saja perusahaan pasti menggembar-gemborkan setengah mati di televisi.
5. Cost, cost, and cost!
Sebagai seorang akuntan tentu saja aku memikirkan biaya. Kalau Coca-Cola berani menetapkan harga Rp 5.000 untuk botol besar, jadi berapa COGS mereka? Apakah selama ini margin mereka sedemikian besar? Kenapa mereka tidak menurunkan harga sejak dulu kala? Remember: Elastisitas!
Secara akuntansi saja sudah tidak masuk akal, apalagi kita bercermin dalam kacamata ekonomi, opportunity cost. Oh my…
Sebagai konsumen kita memang harus lebih kritis dan jeli dalam memilih barang/jasa. Kesimpulanku adalah kecil kemungkinan produk Coca-Cola yang dipasarkan dengan harga “diskon” tersebut merupakan resmi melalui jalur distribusi Coca-Cola. Pendapatku yang terburuk adalah produk tersebut sudah kadaluarsa (walaupun saatku coba rasanya masih sama seperti biasa). Kecurigaanku ini didukung oleh fakta banyak dan marak terjadi penjualan produk kadaluarsa di pasar Indonesia saat ini.
Pendapat ini datang dari pribadiku sendiri tanpa ada maksud untuk menjatuhkan Coca-Cola dan tidak lebih lahir dari rasa skeptisme yang diajarkan di kuliah auditing (wahahahaha!!!).
http://eggie.wordpress.com/2008/09/23/keaslian-produk-coca-cola-%E2%80%93-versi-lengkap/
September 23, 2008 in Seorang Akuntan | Tags: coca-cola, cost, distribution, dumping, murah, pricing | by Laron
Pada hari minggu sepulang berbelanja bersama istri, aku terpikir untuk menulis surat pembaca di detik.com. Dalam beberapa hari terakhir aku memang penasaran dengan produk Coca-Cola yang dijual 5.000-an di sekitar tempatku tinggal, Petukangan. Sehari kemudian suratku dimuat di detik.com. Lebih lengkapnya bisa klik ini.
Keesokan harinya setelah suratku dimuat, pihak Coca-Cola langsung menghubungiku. Mereka mencoba memberi klarifikasi bahwa produk yang aku maksud itu memang produk asli Coca-Cola yang didistribusikan secara resmi. Mereka juga menjelaskan bahwa harga “diskon” tersebut hanya dalam rangka bulan puasa. Sebagai tambahan, mereka juga mempersenjatai penjual dengan surat keterangan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sayangnya aku belum sempat mengecek.
Menerima penjelasan seperti itu tentu saja dalam hati aku tidak puas. Latar belakang akuntansi memang membuatku sedikit skeptis, karena yang ada di otakku hanyalah perhitungan biaya, COGS, dan pricing theory.
Setelah telepon yang pertama, pihak Coca-Cola kembali menghubungiku untuk meminta tolong agar sekiranya aku menulis kembali di detik.com mengenai klarifikasi yang mereka berikan. Karena detik.com adalah situs top 10 di Indonesia yang sudah pasti pembacanya cukup banyak, aku juga tidak mau “aneh-aneh” untuk memperpanjang skeptisku yang tidak berujung. Maka dengan kerendahan hati aku tuliskan keterangan yang diberikan oleh pihak Coca-Cola (lihat). Dan sisanya, akan aku tuangkan dalam blog ini.
Kejanggalan-kejanggalan:
1. Dumping Theory
Dumping adalah salah satu kebijakan penetapan harga yang menggunakan lebih dari satu harga. Artinya perusahaan akan menjual harga lebih mahal/murah di tempat lain. Walaupun dumping mengandung konteks antarnegara, aku pikir masih relevan jika kita kaitkan dengan kasus ini.
Semenjak produk “diskon” tersebut beredar di masyarakat, ternyata aku masih menemukan harga produk Coca-Cola yang “normal” di supermarket. Katakanlah di Giant, Carrefour, Indomaret, Alfa, dll. Kalaupun ada perbedaan, pasti hanya sedikit dan itu karena kesepakatan dengan pihak supermarket.
Hal ini tentu saja menjadi pertanyaan besar bagi kita semua? Terlebih lagi, hal ini tentu akan merugikan pihak supermarket karena konsumen sudah pasti memilih harga yang lebih murah. Toh, tidak ada peraturan bahwa produk Coca-Cola 5.000-an itu hanya untuk orang miskin dan orang kaya tidak boleh membeli. Maka secara bisnis tentu saja hal ini akan berakibat buruk karena menganggu hubungan dengan pihak distributor, yaitu supermarket.
2. Predatory Pricing
Secara sederhana, predatory pricing adalah strategi penetapan harga dengan cara menjual barang/jasa dengan harga sangat murah di bawah harga pasar (bahkan sampai di bawah COGS = rugi), yang tujuannya untuk mengambil pangsa pasar pesaing dan kemudian menaikan harga secara bertahap sambil mempertahankan konsumen.
Industri minuman kaleng termasuk industri yang elastis (informasi dari situs www.coca-colabottling.co.id). Artinya persentase perubahan harga akan mengakibatkan perubahan persentase permintaan yang lebih besar melebihi perubahan harga itu sendiri.
Sekarang coba anda bayangkan saat Coca-Cola menetapkan harganya Rp 5.000 (diskon 44% dari harga normal yang sekitar Rp 9.000). Sudah pasti permintaannya akan jauh melonjak dan lebih besar. Dengan demikian, pasar industri minuman bisa terserap semua ke Coca-Cola. Pesaing yang lain seperti Pepsi tentu saja akan hancur.
Strategi ini sepertinya tidak perlu dilakukan Coca-Cola yang merupakan market leader di pasar Indonesia. Bukan hanya tidak tepat, tetapi bisa merusak citra/imej yang telah Coca-Cola bangun selama ini (akan kita bahas dalam poin selanjutnya).
3. Citra (Price Reflect Quality)
Harga mencerminkan kualitas. Saya yakin kebanyakan orang akan beranggapan bahwa harga yang murah identik dengan kualitas kelas rendah. Jika Coca-Cola menurunkan harga sedemikian drastis, tentu saja pengeluaran mereka di iklan untuk membangun citra/imej menjadi hancur lebur berantakan. Anda pasti kita ingat “Segarnya Mantap, itu Coca-Cola”, atau “Hidup Ala Coca-Cola”
Akupun pertama kali tahu bahwa harganya sedemikian murah sudah langsung beranggapan buruk, bahwa ini tidak mungkin produk legal Coca-Cola. Bisa jadi ini Coca-Cola “odong-odong” seperti produk, makanan, atau minuman yang sering masuk investigasi di Trans TV. Produk hasil penyalahgunaan zat-zat atau bahan-bahan tertentu.
4. Kemana Iklannya?
Saat pihak Coca-Cola mengatakan ‘dalam rangka bulan puasa’, langsung saja aku berpikir, ‘nonsense!’. Tidak mungkin mereka mau mengorbankan biaya yang mereka keluarkan secara cuma-cuma. Memberi kepuasan kepada konsumen? Impossible. Tujuan perusahaan adalah profit, atau lebih tepatnya memaksimalkan kesejahteraan pemilik saham. Sangat sulit diterima jika Coca-Cola mau “beramal” sedemikan baik seperti itu kepada “sebagian” konsumennya. Jangankan menurunkan harga, mengadakan sebuah acara “tidak penting” saja perusahaan pasti menggembar-gemborkan setengah mati di televisi.
5. Cost, cost, and cost!
Sebagai seorang akuntan tentu saja aku memikirkan biaya. Kalau Coca-Cola berani menetapkan harga Rp 5.000 untuk botol besar, jadi berapa COGS mereka? Apakah selama ini margin mereka sedemikian besar? Kenapa mereka tidak menurunkan harga sejak dulu kala? Remember: Elastisitas!
Secara akuntansi saja sudah tidak masuk akal, apalagi kita bercermin dalam kacamata ekonomi, opportunity cost. Oh my…
Sebagai konsumen kita memang harus lebih kritis dan jeli dalam memilih barang/jasa. Kesimpulanku adalah kecil kemungkinan produk Coca-Cola yang dipasarkan dengan harga “diskon” tersebut merupakan resmi melalui jalur distribusi Coca-Cola. Pendapatku yang terburuk adalah produk tersebut sudah kadaluarsa (walaupun saatku coba rasanya masih sama seperti biasa). Kecurigaanku ini didukung oleh fakta banyak dan marak terjadi penjualan produk kadaluarsa di pasar Indonesia saat ini.
Pendapat ini datang dari pribadiku sendiri tanpa ada maksud untuk menjatuhkan Coca-Cola dan tidak lebih lahir dari rasa skeptisme yang diajarkan di kuliah auditing (wahahahaha!!!).
http://eggie.wordpress.com/2008/09/23/keaslian-produk-coca-cola-%E2%80%93-versi-lengkap/
produk mustika ratu
Produk-produk jamu dan kosmetika tradisional Mustika Ratu dibuat dari bahan-bahan alami. Hampir seluruh produk kami diramu sesuai resep leluhur, pusaka Keraton Surakarta Hadiningrat, yang diwariskan turun menurun. Namun kini produk-produk ini dibuat dengan menggunakan teknik dan mesin modern yang memenuhi standar ketat kualitas dan keamanan. Berawal dari usaha rumah tangga,kini telah tumbuh menjadi perusahaan consumer products yang besar. Produk-produk Mustika Ratu kini menempati posisi puncak di pasar domestik dan diterima baik di pasar luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura. Bertolak dari keberhasilan ini, perusahaan berencana untuk meningkatkan ekspor dan penetrasi ke pasar internasional. Mustika Ratu kini memusatkan usahanya pada produk jamu dan kosmetika tradisional, yang kategori produknya - baik jenis produk maupun mereknya - terus berkembang
http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-
Produk-produk jamu dan kosmetika tradisional Mustika Ratu dibuat dari bahan-bahan alami. Hampir seluruh produk kami diramu sesuai resep leluhur, pusaka Keraton Surakarta Hadiningrat, yang diwariskan turun menurun. Namun kini produk-produk ini dibuat dengan menggunakan teknik dan mesin modern yang memenuhi standar ketat kualitas dan keamanan. Berawal dari usaha rumah tangga,kini telah tumbuh menjadi perusahaan consumer products yang besar. Produk-produk Mustika Ratu kini menempati posisi puncak di pasar domestik dan diterima baik di pasar luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura. Bertolak dari keberhasilan ini, perusahaan berencana untuk meningkatkan ekspor dan penetrasi ke pasar internasional. Mustika Ratu kini memusatkan usahanya pada produk jamu dan kosmetika tradisional, yang kategori produknya - baik jenis produk maupun mereknya - terus berkembang
http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-
Langganan:
Postingan (Atom)